Bank Sentral Arab Saudi (SAMA) resmi mengakhiri keikutsertaannya dalam proyek mBridge, platform CBDC lintas batas yang dipimpin China di bawah naungan BIS, setelah menyelesaikan tahap proof of concept pada Mei 2025. SAMA mengklaim keluarnya sudah direncanakan, namun langkah ini terjadi di tengah tekanan geopolitik dan sorotan AS soal potensi mBridge menjadi alternatif sistem pembayaran yang menghindari sanksi dolar.
mBridge dirancang untuk interoperabilitas CBDC antar bank sentral peserta (China, Hong Kong, Thailand, UAE) tanpa bergantung pada stablecoin tunggal. Kepergian Saudi, salah satu eksportir minyak terbesar, dinilai sebagai sinyal bahwa poros energi Teluk masih mempertimbangkan risiko geopolitik dalam adopsi infrastruktur pembayaran digital, meski SAMA membantah adanya tekanan eksternal.
Di sisi lain, China sendiri mulai mengekang perkembangan stablecoin dan CBDC lintas batas, dengan PBoC mendorong pengawasan ketat dan koordinasi internasional guna menjaga kendali modal. Hal ini menunjukkan Beijing menyeimbangkan inovasi pembayaran dengan keamanan finansial nasional.
Bagi Indonesia, dinamika ini krusial mengingat Bank Indonesia sedang mengembangkan Rupiah Digital dan perluas kerja sama pembayaran lintas batas. Arah arsitektur CBDC global—apakah terpecah per blok geopolitik atau terbuka multilateral—akan menentukan pilihan teknis dan strategis yang tersedia bagi Indonesia.