CEO Bybit, Ben Zhou, menyatakan era bursa kripto murni akan berakhir karena nasabah menginginkan layanan keuangan yang lebih luas, termasuk saham, emas, forex, dan derivatif. Bybit meluncurkan kampanye global "Make Your Move" untuk memposisikan diri sebagai platform keuangan menyeluruh, bukan sekadar bursa kripto.
Pergeseran ini tercermin dari langkah Coinbase yang memperluas layanan dengan saham dan prediction market, sementara beberapa bursa lain seperti BitMEX dan CoinEx justru menutup operasi akibat volume perdagangan yang menyusut dan biaya kepatuhan yang meningkat. BitMart bahkan menjajaki restrukturisasi agar sebagian operasinya tetap berjalan.
Tekanan struktural ini muncul karena basis pendapatan bursa kripto menyempit: biaya kepatuhan naik, volume transaksi turun, dan margin perdagangan spot tergerus. Bursa yang bertahan adalah mereka yang memiliki skala, lisensi lintas yurisdiksi, dan kemampuan menawarkan produk non-kripto, sehingga kompetisi bergeser menjadi antara bursa kripto yang berevolusi melawan broker dan bank tradisional.
Dampaknya juga terasa di Indonesia, di mana bursa aset digital domestik menghadapi tekanan serupa, terutama dengan transisi pengawasan dari Bappebti ke OJK. Tanpa skala yang memadai, pelaku lokal berisiko tersingkir lebih cepat jika bursa global memilih konsolidasi atau menutup operasi.