Synthesia, startup pembuat video berbasis AI asal Inggris yang kini berkantor di New York, memamerkan produk avatar digital interaktifnya dengan membuat avatar dari seorang jurnalis TechCrunch lengkap dengan wajah dan suara. Perusahaan ini mencatat valuasi US$4 miliar pada tahun ini setelah pendapatan berulang tahunan menembus US$100 juta. Avatar tersebut dibangun dari kombinasi model voice-to-text, video, language, dan text-to-voice, dan hanya dilatih untuk menjawab pertanyaan seputar satu artikel investigasi.
Posisi produk Synthesia bergeser dari sekadar video presentasi ke alat kerja korporat, dengan produk Roleplay Sessions yang memungkinkan karyawan berlatih presentasi penjualan bersama avatar AI interaktif. Nilai ekonominya terletak pada pelatihan berskala besar yang kini dapat diproduksi sekali dan direplikasi tanpa batas, menekan kebutuhan instruktur, ruang, dan jadwal.
Implikasinya menyebar ke beberapa arah, termasuk pergeseran anggaran pelatihan dan pengembangan korporasi dari vendor produksi video konvensional ke platform AI, serta munculnya beban baru terkait hak citra, masa berlaku persetujuan, dan penyimpanan data biometrik karyawan. Di Indonesia, korporasi besar dan lembaga dengan pelatihan masif seperti perbankan dan BUMN menjadi kandidat adopsi paling awal.
Namun, tingkat adopsi domestik masih bergantung pada kesiapan tata kelola data pribadi dan kapasitas infrastruktur digital, sehingga dampaknya tidak serta-merta terasa dalam waktu dekat. Yang perlu dipantau adalah pengumuman ekspansi Synthesia ke Asia Tenggara, kesiapan tata kelola data biometrik, serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi biaya berlangganan platform asing.