Sebuah artikel di Asia Times membahas keraguan futuris Ramez Naam terhadap gagasan recursive self-improvement (RSI) dan skenario fast takeoff (FOOM) menuju Singularitas teknologi. Naam, yang dikenal sebagai teknolog-optimis, meragukan lonjakan kapabilitas AI yang tiba-tiba, meskipun banyak peneliti dan pelaku industri meyakini momen tersebut sudah dekat dan berlomba mengejarnya. Penulis artikel bersikap agnostik dan menilai jawabannya hanya bisa diketahui dengan menunggu, namun menekankan bahwa bahkan tanpa Singularitas, kemampuan AI sudah melampaui manusia di banyak dimensi dan akan terus meningkat pesat.\n\nInti persoalan bukanlah apakah Singularitas tiba, melainkan bahwa sebagian besar belanja modal komputasi global saat ini dibenarkan oleh keyakinan pada skenario yang belum terbukti. Jika laju peningkatan kemampuan AI lebih lambat dari asumsi, koreksi akan terjadi pada operator pusat data, pemasok daya, dan pemegang saham rantai pasok cip. Sebaliknya, jika kapabilitas terus naik secara bertahap, pemenangnya adalah perusahaan yang menekan biaya melalui otomatisasi alur kerja, bukan yang bertaruh pada lompatan besar.\n\nDampak ke bisnis mencakup risiko bagi perusahaan yang menganggarkan belanja AI berdasarkan asumsi lompatan cepat, tekanan harga pada sektor jasa profesional, dan biaya listrik yang meningkat akibat permintaan pusat data. Bagi Indonesia, kanal transmisinya bersifat struktural melalui harga karena biaya lisensi model dan langganan cloud didenominasi dolar AS, sementara rupiah berada di Rp17.970 per dolar AS. IHSG di 6.148 dan Brent di USD100,71 per barel tetap menjadi faktor dominan sentimen harian pasar domestik.\n\nYang perlu dipantau meliputi pernyataan resmi pemerintah Indonesia soal kerangka regulasi AI dan perlindungan data, arah kurs rupiah terhadap dolar AS, serta pengumuman belanja modal operator komputasi global dan vonis regulasi di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Ketidakpastian standar global dapat memperlambat keputusan ekspansi korporasi multinasional, sehingga peluang Indonesia bersaing memperebutkan investasi pusat data regional bergeser waktunya.