Korps Angkatan Ketiga Ukraine melaksanakan takti pertama dalam sejarahnya pada Operasi Vivaldi, mengoperasikan drone pemboman berat untuk mengantar robot darat NC13 "Gryphon" lebih dari 10 kilometer ke belakang garis depan Rusia di wilayah Donetsk. Robot tak berawak tersebut dilengkapi kamerekam operasi penyerangan yang konon menimbulkan korban jiwa pada sisi Rusia, memberikan keuntungan taktis signifikan dengan mengejutkan musuh di posisi yang tidak terduga.
Inovasi ini dikembangkan secara inisiatif oleh pasukan sistem tak berawak korps tersebut, bertujuan mengurangi paparan personel infanteri di garis depan paling berbahaya. Selain misi tempur, robot serupa telah berhasil membersihkan ranjau antipersonel di jalur sepanjang lebih dari 18 mil tanpa tim sapper manusia di lokasi, menyelesaikan tugas yang biasanya memerlukan dua compagnie rekayasa dalam beberapa hari hanya dalam waktu singkat.
Unit perang elektronik pendukung melaporkan telah mengganggu lebih dari 20.000 misi drone Rusia selama kampanye counteroffensive yang berlangsung sejak Mei 2026. Militer Ukraine mengklaim Operasi Vivaldi telah merebut kembali hingga 96 mil persegi wilayah serta mengalahkan satu sayap gerakan capit Rusia.
Komandan Andrii Biletskyi menegaskan operasi ini baru tahap pertama (“musim pertama”) dan menjanjikan perkembangan lebih lanjut. Saat musim gugur mendekat, kedua belah pihak diprediksi akan terus berevolusi dalam taktik drone, dengan Rusia mengarahkan unit bergear dan drone ke Dobropillya guna menghadapi potensi serangan mekanis.